21 HARI MELUKIS MIMPI ANAK TKI

Oleh : Palupi Mutiasih

VTIC Cycle 4 : Mendidik dan Mencerahkan Anak Bangsa

“Mendidik dan mencerahkan anak bangsa” menjadi tema yang diusung oleh Volunteerism Teaching Indonesian Children (VTIC) Foundation dalam kegiatan VTIC Cycle 4 tahun ini. VTIC Cycle merupakan kegiatan tahunan yang digagas oleh yayasan, berfokus pada bidang pendidikan dan kemanusiaan anak-anak buruh migran. Berdirinya program ini, berawal dari diundangnya founder VTIC yaitu Ineu Rahmawati mahasiswa dari Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), Ervina Maulida dan Asep Rudi Casmana mahasiswa dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tahun 2012 oleh Kak Salim, pahlawan tanpa tanda jasa yang memiliki kontribusi besar dalam merealisasikan pendidikan untuk anak TKI di Sarawak Malaysia. Ketika mereka datang ke sana, mereka menemukan keadaan pendidikan yang jauh dari harapan. Anak-anak TKI  belajar dengan buku terbatas dan satu ruang kelas tanpa sekat yang terdiri dari berbagai macam jenjang. Orangtua mereka kebanyakan buta huruf dan memiliki motivasi rendah untuk pendidikan, serta kondisi lingkungan sosial yang tidak kondusif untuk perkembangan anak. Keterbatasan kemampuan guru dalam mengajar menjadi daftar permasalahan pelik yang membuat mereka berpikir menciptakan program yang mampu mampu mengubah potret buram pendidikan anak TKI, walau dalam skala mikro untuk itu tercetuslah kegiatan VTIC Cycle yang telah melahirkan empat generasi. 

“Program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun mimpi anak TKI selama 21 hari mulai dari tanggal 4-24 agustus 2015. Alhamdulillah Tahun ini, ada 45 Mahasiswa terbaik dari seluruh Indonesia yang lolos kualifikasi setelah melewati proses panjang seleksi berkas, microteaching dan interview yaitu dari UNJ, UI, UPI, UNHAS, UGM, UNNES, UNP, UM,UNS, UB, UNAIR dan lain-lain yang diberangkatkan untuk mengajar di 15 sekolah non formal anak TKI  yang diberi nama Community Learning Centre (CLC) di Sarawak, Malaysia” papar Ineu Rahmawati, selaku Dewan Pembina VTIC Foundation.

Selain itu, sebelum keberangkatan para pengajar dibekali berbagai macam pelatihan dan materi. Mulai dari pelatihan mengajar, mendongeng, pembuatan media pembelajaran serta pemberian wawasan terkait penempatan mereka di Sarawak Malaysia. “Agar ketika terjun mereka dapat memberikan pembelajaran yang menyenangkan. Lalu ada yang berbeda dari program VTIC Cycle 4 tahun ini, dilaksanakan program training dari ada dr. Iqbal dan Kak Rini alumni Indonesia mengajar serta bu Ida dan Bu Wilda selaku Dosen yang tergabung dalam tim VTIC Training. Mereka memberikan penyuluhan kesehatan, seminar parenting, dan pelatihan bagi guru-guru CLC di Sarawak dalam mengajar, Malaysia “ Tambah Ahmad Adib, selaku ketua VTIC Foundation dan merupakan alumni VTIC Cycle 2. 

Bekerja sama dengan atase pendidikan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur, Malaysia yang membuka dan menutup program VTIC Cycle 4 tahun ini, serta Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kuching yang memberikan surat kemudahan bagi VTIC dalam melaksanakan program pengajaran di sana, VTIC Cycle 4 dapat menyukseskan rangkaian kegiatan yang dirancang dalam menumbuhkan semangat dan terbukanya cakrawala berfikir anak-anak TKI untuk menggapai masa depan.

Dalam sambutannya ketika membuka acara ini, Atase Pendidikan KBRI Kuala Lumpur, Malaysia, yaitu Bapak Ari Purbawanto menyatakan perasaan haru dan bangga akan tekad dan idealisme yang dimiliki oleh mahasiswa yang rela memikirkan nasib bangsanya. “Saya sampai geleng-geleng kepala kalian datang ke Malaysia untuk program yang mulia ini. Kalian adalah penerus bangsa!”, Ujar Pak Ari. Lulusan Maritime Technology di Tokyo university yang berhasil menemukan mesin pemisah tulang ikan ini juga berpesan bahwa generasi Muda harus meningkatkan profesionalisme sesuai bidang masing-masing, karena ini merupakan sebuah pengorbanan atau dedikasi yang luar biasa untuk bangsa.

Merayakan Kemerdekaan di Negeri Tetangga

Meminjam pepatah dari pendiri bangsa kita Ir. Soekarno bahwa “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya” maka bulan agustus dirasa tepat menjadi bulan dilaksanakannya program VTIC, dipilihnya bulan agustus memiliki visi tersendiri yaitu agar relawan VTIC mampu membangkitkan jiwa nasionalisme anak-anak TKI dan memperkenalkan Indonesia lebih dekat kepada mereka. Momentum kemerdekaan menjadi momen sakral yang harus diketahui mereka yang mayoritas tidak pernah merasakan hari kemerdekaan di negeri sendiri. Bahkan, di beberapa CLC seperti di CLC Bukit Peninjau, CLC Ladang tiga, CLC Lambir dan CLC Mutiara momentum kemerdekaan adalah pengalaman yang baru pertama kali mereka rasakan.

Agenda menghias kelas dengan atribut merah putih, melatih baris berbaris, mengenalkan lagu nasional, lagu dan tarian daerah, mengenalkan teks proklamasi, UUD 1945 dan Pancasila serta menceritakan para pejuang merebut kemerdekaan negeri khastulistiwa, menjadi agenda wajib dan menyenangkan yang dilakukan selama mengajar. Walau hanya dapat melaksanakan upacara HUT RI di dalam kelas, tidak menghilangkan semangat relawan VTIC dan anak-anak buruh migran kelapa sawit untuk menyelenggarakan upacara kemerdekaan. Senandung lagu Indonesia raya dan hari  merdeka yang menggema pada ruang kelas  menjadi saksi sekaligus ironi bahwa kemerdekaan dalam bidang pendidikan belum terlaksana untuk anak-anak TKI di Sarawak, Malaysia. Berkibarnya bendera merah putih serta keceriaan mereka dalam mengikuti Aneka lomba yang diadakan oleh masing-masing relawan di penempatan merekamenambah semarak p erayaan hari kemerdekaan anak-anak buruh migran.

 

Persami, Karnaval Budaya dan Perpisahan

22-23 agustus 2015 menjadi detik-detik yang ditunggu sekaligus detik yang menyedihkan bagi relawan VTIC dan anak-anak TKI. Pada tanggal tersebut, 15 CLC dengan perwakilan siswa-siswi terbaiknya berkumpul di CLC Telabit di Bintulu, Sarawak Malaysia untuk melaksanakan Persami, perlombaan antar CLC dan karnaval budaya Indonesia. dibuatnya acara ini semata-mata agar anak-anak buruh migran memiliki teman dan pengalaman baru dalam kehidupan mereka.

Perlombaan antar CLC yang memperebutkan piala bergilir dari atase pendidikan KBRI dibuat dalam rangka menumbuhkan jiwa kompetitif anak-anak buruh migran. Adapun perlombaan yang diadakan adalah perlombaan yang bersifat akademik maupun non akademik seperti lomba cerdas cermat, baca puisi, adzan, mewarnai, murottal qur’an, lari estafet, balap karung, tarik tambang, dan menari.

Lalu ada juga karnaval budaya dari tiap-tiap CLC yang dibagi dalam kelompok pulau-pulau besar di wilayah Indonesia mulai dari pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan Papua sehingga mereka mengenal kebudayaan Indonesia dan merasa bangga menjadi bagian dari negeri tercinta. Tak ketinggalan, di malam harinya ada upacara dan api unggun yang menjadi ciri khas persami sekaligus menerapkan pramuka sebagai ekstrakulikuler wajib yang harus mereka ikuti dalam mengembangkan bakat dan kemampuan yang mereka punya.

Rangkaian kegiatan di CLC Telabit adalah kegiatan penutupan yang dikemas untuk memberikan perpisahan yang penuh makna bagi relawan, anak-anak TKI dan guru-guru CLC di Sarawak, Malaysia. Dengan berakhirnya kegiatan di CLC Telabit maka menandakan  relawan VTIC untuk kembali pulang ke ibu pertiwi dan meninggalkan anak-anak TKI. Perpisahan bukanlah akhir bagi relawan VTIC untuk terus berjuang mengabdi pada ibu pertiwi. Anak-anak TKI di Sarawak, Malaysia adalah anak bangsa yang harus diperjuangkan haknya dan mendapatkan perhatian khusus agar kehidupan mereka tidak lagi sengsara.

“ 21 hari di Malaysia, berhasil membangun ruang ingatan baru bagi saya dalam memikirkan bagaimana persoalan di sana harus terselesaikan, bagaimana mahasiswa dapat bergerak nyata bagi mereka. Rasanya, pulang membuat saya ingin kembali lagi. Semoga masih banyak mahasiswa yang berkenan datang dan berjuang bagi anak-anak Indonesia yang haus akan pendidikan”, ujar Muhammad Fasha Rouf Relawan VTIC cycle 4 setelah berpisah dengan anak-anak CLC bukit Peninjau yang selama ini menjadi tempat baginya belajar dan mengajar.



 

Close Menu