ALIF KECIL

Oleh : Dini Nur Hassanah (VTIC Cycle 2)

Senja itu, terdengar kata “alif” dari bibir mungil. Mengeja “alif” demi “alif”. Walau terkadang tersendat. Walau terkadang diselingi rajukan manja. Walau kini tak ku dengar lagi alif tersebut. Rindu… Rindu alif kecil dari bibir mungil.

Senin, 18 Agustus 2014 Senja ini adalah senja pertama kali aku dan Nuzul mengadakan pengajian untuk anak-anak. Kami segera bersiap menuju sekolah yang tidak seberapa jauh jaraknya. Kami segera masuk dan menghampiri mereka. Mereka pun berebut menyambut tangan kami. Aku memperhatikan satu per satu anak. Tidak semuanya hadir sore ini. Ada lagi, hanya ada satu sampai dua anak yang terlihat membawa alat sholat bahkan anak perempuan tidak memakai kerudung. Mereka masih menggunakan pakaian untuk bermain. Apa mungkin ini pengajian pertama untuk mereka?

Cikgu, kita belajar apa?”

 “Ehmm.. sore ini kita belajar wudhu dan shalat bersama,”

“Shalat apa Cikgu?”

 “Ashar, nak,”

 “Cikgu… aku tidak membawa alat sholat. Aku pulang dulu..”

Akhirnya beberapa anak memutuskan untuk pulang. Kami pun menunggu beberapa saat.

Kegiatan mengaji pun dimulai. Anak-anak mulai membacakan ayat-ayat Al Qur’an. Mereka sudah hapal beberapa ayat-ayat Al Qur’an yang tidak terlalu panjang. Tidak hanya itu, ada doa lain yang sudah mereka pahami beserta artinya. Senang melihat bibir-bibir mungil itu tatkala mengucapkan doa dengan tangan menengadah. Selepas itu, anak-anak pun belajar wudhu. Mulanya kami mengenalkan wudhu dengan cara yang menyenangkan yaitu dengan tepuk wudhu. Anak-anak tampak antusias sekali.

“Tepuk wudhu… baca bismillah sambil cuci tangan. Kumur-kumur basuh hidung basuh muka. Tangan sampai ke siku, kepala dan telinga. Terakhir basuh kaki langsung doa…” Semua anak-anak mengikuti sambil memperagakannya. Mulanya mereka sedikit kaku. Tapi, perlahan mereka memahaminya. Praktik wudhu pun dimulai. Anak perempuan dibimbing olehku sedangkan anak laki-laki oleh Nuzul. Ada saja tingkah lucu tatkala berwudhu.Mereka berbicara tatkala berwudhu.

 “Cikguuuuu… ini macam gimana?”

Cikguuuu….” “Cikguu….. dan Cikguuuu”

Semua berbicara tiada henti. Aku pun kemudian menyiapkan alat sholat. Menggelar sajadah. Memakaikan mukena untuk anak-anak yang masih kecil. Mereka tampak cantik sekali dengan balutan mukena. Tidak hanya itu, Nuzul pun merapihkan sarung yang dikenakan anak laki-laki.

 “Cikgu, kita baca apa?”

 “Kita ikuti saja gerakan Cikgu Nuzul ya, nak”

Sebelumnya, aku dan Nuzul sudah sepakat untuk mengenalkan terlebih dahulu gerakan sholat. Untuk hari ini kami fokuskan pada tata cara wudhu. Hal ini bertujuan supaya anak-anak tidak kebingungan. Esok, kami akan mengenalkan tentang sholat. Kami pun bersiap untuk menghadapMu. Bersujud bersama di tanah Balim. Semua barisan shaf sholat telah siap. Nuzul mulai mengangkat tangan tanda semua harus mengikutinya.

“Allahuakbar…”

Semua tangan terangkat dan memulai untuk berkomunikasi dengan Mu. Gerakan demi gerakan walaupun anak-anak belum mengerti apa yang harus mereka ucapkan. Walau pun ada sedikit percakapan di antara mereka tatkala shalat berlangsung. Tapi, aku yakin Kau tetap memahami mereka yang masih belajar ini.

Assalamualaikumwarahmatullah…”

Nuzul pun lantas mengajak anak-anak untuk berdoa bersama. Tangan mungil pun menengadah. Mendoakan kedua orang tua mereka dan memohon kebaikan dunia dan akhirat. Nuzul juga menasehati anak-anak supaya tidak bersenda gurau tatkala sholat berlangsung. “Iye, Cikguuuuuu…” Kami pun lantas berjabat tangan dan melipat rapih peralatan sholat kami.

Kegiatan pengajian ini pun berlangsung mulai dari hari Senin hingga Jumat. Materi yang diajarkan mulai dari doa sehari-hari yang bersumber dari buku doa, Iqra, bacaan shalat, dan shalat Ashar berjamaah. Semua anak senang mengikuti kegiatan ini. Mula-mulai tidak ada yang menggunakan kerudung saat pengajian tapi perlahan anak-anak mulai menggunakan kerudung bahkan membawa alat sholat. Senang rasanya tatkala semua menjadi lebih baik perlahan.

Ada suatu kejadian yang membekas hingga saat ini. Aku ingat, sore itu aku menitikkan air mata. Di hari terakhir pengajian pada hari Jumat. Sore itu, entah mengapa anak-anak tampak aktif sekali. Mereka bersenda gurau tatkala sedang shalat Ashar. Aku hanya menghela nafas panjang.

“Nak, sudah cikgu bilang kalau sholat tidak boleh apa?” Semua anak pun tertunduk sambil merapihkan mukena. Aku pun merapihkan mukena ku dan lantas berjalan menuju luar kelas. Aku memilih untuk duduk di depan pintu kelas. Ku dengar ada bisik-bisik diantara anak-anak. Nuzul paham betul apa yang ku rasakan dan dia memilih untuk mengambil alih anak-anak.

Kala itu, ada perasaan yang menggelayut dan merusak perasaanku. Perasaan,”Bagaimana nasib pengajian sore ini kelak?” Anak-anak masih belum memahami bacaan sholat bahkan untuk berwudhu saja masih mengalami kesulitan. Lalu, hari ini adalah hari terakhir pengajian sore. Aku merasa bersalah tatkala aku dan Nuzul belum selesai mengajarkan bacaan sholat. Bacaan sholat yang kami ajarkan hanya sampai bacaan duduk diantara dua sujud. Kami belum mengajarkan bagaiman atahiyat awal dan akhir, bagaimana syarat sah sholat, apa saja macam-macam sholat sunah, bahkan kami belum mengecek bagaimana tata cara sholat mereka. Sore itu, aku benar-benar terpukul melihat waktu yang singkat tapi aku belum memberikan yang terbaik untuk mereka. Tidak hanya itu, untuk bacaan iqra, aku ingat betul hanya mampu mengajarkan sekitar 6-7 lembar iqra per anak bahkan ada yang bacaannya terhenti sampai huruf tsa. Ya, murid kecil ku, Amel baru bisa membaca hingga huruf tsa. Lalu, bagaimana dengan bacaan hijaiyah lainnya. Aku benar-benar tidak tahu harus berekspresi apa selain menangis depan pintu dan berjalan tertunduk selama perjalanan pulang. Aku pun memilih untuk tertunduk sore itu. Sore tanpa sunset dan aku memilih untuk diam.

Sabtu, 23 Agustus 2014. Aku berusaha mengatur perasaanku. Pagi ini aku tidak boleh tampak sedih di depan anak-anak. Seperti biasa, anak-anak menghampiri aku dan Nuzul. Aku berusaha memasang wajah tersenyum manis pada mereka. Hari ini mungkin hari terakhir kami melihat matahari terbit karena esok kami sudah harus pulang. Kami pun mengajak anak-anak ke atas untuk melihat matahari terbit. Tatkala perjalanan ke atas, ada seorang anak yang meminta maaf padaku.

 “Cikgu… maafkan kami membuat cikgu sedih,” ujar Farah

Aku mendengarkan ucapan maaf dari bibir Farah. Hal ini disambut dengan yang lain. Mereka juga meminta maaf. Amel malah merajuk manja sembari memelukku. Mungkin mereka fikir aku marah karena ulah mereka yang tidak bisa diam tatkala sedang sholat. Padahal lebih dari itu. Bagiku, tidak ada anak-anak yang nakal. Mereka hanya terlampau aktif dan inginmencari perhatian. Itu sudah biasa. Tapi ini berbeda. Bukan hanya perkara menghadapi anak-anak yang terlampau aktif. Ini lebih dari itu. Aku merasa bersalah. Bersalah karena hanya sedikit yang mampu ku berikan dengan waktu yang singkat ini. Aku pun lantas memeluk mereka semua.

Cikgu tidak marah, cikgu hanya sedih karena tidak bisa mengajarkan kalian mengaji lagi,”

Aku hanya berusaha berkata jujur kepada anak-anak. Aku memang merasa seperti itu. Aku hanya ingin mereka mengerti bahwa aku dan Nuzul akan pergi.

“Aaaa…Cikguuuuuu….”

Cikgu bale Indon?”

“Aihhhh….”

Aku hanya mengangguk lemah sambil berusaha tetap tersenyum pada anak-anak. Aku mendengar rajukan mereka lagi. Ini yang membuat aku menangis lagi dalam rangkulan mereka. Sedih rasanya. Bacaan alif hanya sampai tsa dan bacaan sholat pun belum lengkap. Bagaimana dengan bacaan sholat? atau iqra mereka? Allah… tolong…

“Cikgu sedih tidak bisa mengajarkan iqra lagi. Kita tidak lagi sholat ashar bersama. Kita tidak sholat maghrib bersama. Maaf..”



 

Close Menu