CLC MUTIARA: CINTA DAN CITA-CITA

Oleh : Ipmawan Hari Sanjaya (VTIC Cycle 4)

Mendidik adalah tanggungjawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang terdidik di republik ini adalah “dosa” setiap orang terdidik yang dimiliki di republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.

– Anies Baswedan –

Saya Ipmawan Hari Sanjaya, Mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Personally, saya sangat interested dan passionate toward social development issue, community service and community empowerment. Saya menyalurkan minat tersebut dengan bergabung di beberapa komunitas dan organisasi yang membawa misi-misi sosial, lingkungan, pendidikan dan pengembangan masyarakat.

Pada kesempatan kali ini, saya akan menceritakan pengalaman menjadi volunteer. Kegiatan ini bernama VTIC Cycle 4 yang di gagas oleh sebuah yayasan bernama Volunteerism Teaching Indonesian Children (VTIC) Fondation. Tujuan dari kegiatan ini adalah mendidik anak Indonesia yang berada di daerah perkebunan kelapa sawit di Serawak, Malaysia.

Pada kegiatan VTIC Cycle ke-4 kali ini berlangsung pada tanggal 01 Agustus – 25 Agustus 2015 yang lalu. Bersama dengan 40 mahasiswa dari 27  universitas di Indonesia, kami diterjunkan di sekolah-sekolah non formal Indonesia di Serawak, Malaysia. Kami ditugaskan untuk mengajar dan mendidik anak-anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang ada di Serawak. Ada sekitar 14 sekolah non formal Indonesia yang berada di serawak dengan sekitar 700 anak yang mengenyam pendidikan dari sekitar 20.000 anak Indonesia yang ada di Serawak.

 

Sekelumit Cerita di Mutiara

Kegiatan VTIC Cycle 4 ini dibagi beberapa kelompok, sesuai dengan kebutuhan dari masing-masing CLC. Dari sekitar 40 mahasiswa, kami dibagi menjadi 12 kelompok, dengan masing-masing kelompok terdiri dari 2 sampai 6 mahasiswa. Saya satu kelompok dengan mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung, yaitu Fitriawati dan mahasiswa dari Universitas Negeri Jakarta, yaitu Dina Chaerani.

Kami bertiga ditempatkan di Ladang Mutiara. Di sana kami ditinggal bersama staf yang bekerja diperusahaan tersebut. Perumahan staf yang kami tempati cukup bagus, tetapi berbeda dengan perumahan buruh kelapa sawit yang terlihat sangat kumuh. Selain itu, Perumahan staf yang kami tempati terbuat dari batu-batuan, jadi disebut sebagai perumahan batu dan terlihat lebih tertata dan lebih rapih, sedangkan perumahan buruh kelapa sawit terbuat dari kayu, dan ruangan didalamnya lebih sempit serta kolong-kolong dari rumah tersebut terdapat banyak sampah, sehingga perumahan kayu terlihat lebih kumuh dan kotor.

Hari itu telah pagi, matahari sudah mulai menyapa, suasana di Ladang Mutiara begitu tenang, dan hanya pepohonan sawit serta parit menjadi pemandangan. Hari ini adalah hari pertama kami masuk sekolah, jarak antara tempat tinggal kami dan sekolah yang cukup jauh, membuat kami bersiap-siap menuju sekolah sepagi mungkin. Ketika kami berjalan menuju sekolah dengan diantarkan oleh Cikgu Sri, kami bertemu dengan beberapa buruh migran yang sudah mulai bekerja. Mereka bekerja dengan rajinnya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya di kampung halaman.

Sesampainya di sekolah, adik-adik menyambut kami dengan hangat dan riang. Hanya pada hari pertama mereka tampak malu-malu, kemudian di hari-hari berikutnya kami sudah mulai akrab dengan mereka. Meskipun sekolah kami kecil dan tidak sebagus sekolah lainnya serta fasilitas belajar mengajar yang kurang memadai, tidak membuat semangat adik-adik turun untuk belajar.

Satiap hari, pada pukul 07.00 waktu setempat adik-adik sudah siap-siap untuk belajar di sekolah. Sambil menunggu kami, adik-adik sarapan bersama-sama terlebih dahulu, di pinggir kelas. Kemudian setelah sarapan selesai, mereka langsung berbaris rapih dan masuk kelas untuk memulai pelajaran.

Pada hari kedua, kami mulai melakukan pembagian kelas, saya mengajar murid kelas 1 dan 2 SD, Kak Dina mengajar TK, dan Kak Fitri mengajar murid kelas 3, 4 dan 5 SD. Tentu bukan hal mudah dalam mengajarkan mereka, beberapa materi pelajaran masih belum diketahui oleh mereka. Misalnya saja murid bernama Dafin yang sudah kelas 2 SD, dia ternyata belum mampu menghitung dan menulis sehingga harus belajar bersama murid TK. Selain itu, Algo, Sulpi, dan Vina yang sudah berada di tingkat atas SD masih belum mengenal pulau-pulau, budaya, sejarah di Indonesia.

Harapan dan Cita-Cita Sang Mutiara

Setiap hari tentu kami ditantang untuk menjadi kreatif dan inovatif dalam mengajarkan mereka, agar menjadi atraksi (daya tarik) bagi mereka dan pelajaran yang telah disampaikan akan mudah dimengerti oleh mereka. Hal yang paling membuat saya semangat mengajarkan mereka adalah tingginya harapan dan cita-cita mereka. Banyak dari mereka ingin melanjutkan pendidikan hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), bahkan beberapa adik-adik di CLC Mutiara, ada yang mempunyai harapan untuk sekolah hingga ke Perguruan Tinggi (PT).

Ketika pelajaran Bahasa Indonesia tentang cita-cita berlangsung, saya menjelaskan dan menceritakan tentang cita-cita saya pribadi kepada mereka. Setelah saya bercerita dan menjelaskan kepada mereka, mereka diberi waktu untuk memikirkan apa cita-cita mereka, setelah itu mereka menceritakan cita-citanya. Kemudian, saya menunjuk beberapa adik-adik untuk menceritakan cita-cita mereka. Salah satunya adalah Rina, murid kelas 1 SD. Rina bercita-cita menjadi seorang cikgu, untuk mengajarkan teman-temannya agar menjadi lebih pintar dan pandai. Setelah Rina bercerita, jam menunjukan pukul 10.00 waktu setempat, dan pelajaran tentang cita-cita selesai, kemudian waktunya istirahat.

Pada jam istirahat, mereka makan bersama lagi. “Kak, nasi dan lauk saya habis ya.” Begitulah mereka melaporkan bahwa tidak tersisa sedikitpun makanan di tempat bekalnya. Kemudian, seperti biasa mereka bermain di lahan sebelah yang cukup membahayakan karena adik-adik memanjat pohon, atau saling berkejaran di bebatuan. Akhirnya, setiap jam istirahat saya mulai beraksi melalui dongeng-dongeng, agar adik-adik mengurangi bermain lari-larian yang cukup melelahkan dan berbahaya.

Momen Mengaharukan nan Mengesankan di Mutiara

Momen paling mengesankan dan mengharukan adalah ketika kami menyelenggarakan upacara bendera serta lomba peringatan HUT RI ke-70. Upacara 17 Agustus adalah upacara pertama yang dilaksanakan di Ladang Mutiara dengan menggunakan tiang bendera, lengkap dengan benderanya. Dan, ketika bendera berkibar pertama kali di Ladang Mutiara, momen tersebut adalah momen yang paling mengharukan, karena kami berusaha melatih adik-adik di sana agar siap menjalankan upacara dengan baik dan membuatkan segala keperluan untuk kepentingan keberlangsungan upacara.

Selain itu, momen mengesankan terjadi ketika terlihat canda tawa yang lepas dari setiap bibir mereka. Sungguh, kami akan merindukan masa-masa seperti ini. Belajar jujur, menghargai orang lain, dan bertanggungjawab menjadi tujuan kami mengadakan perlombaan-perlombaan ini. Selain itu, layaknya seorang guru, tidak hanya memberikan pengajaran namun juga menjadi teladan bagi mereka. Maka, adalah kewajiban kami untuk terus memperbaiki diri.


Leave a Reply

Close Menu