MENJALIN JALAN MEWUJUDKAN IMPIAN ANAK-ANAK TKI DI MIRI MALAYSIA

Oleh : Ineu Rahmawati

Masih di sebuah ruangan yang sama, saya, panitia, dan para relawan pengajar Volunterism Teaching Indonesian Chlidren (VTIC) berdiskusi untuk keberangkatan kami ke Negeri Jiran keesokan harinya. Sudah dua hari kami berada di pesantren di kawasan Depok untuk melaksanakan pelatihan, sebelum terjun ke Miri Malaysia. Kegiatan ini diselenggarakan untuk pemantapan persiapan diri relawan pengajar di lapangan selama kurang lebih satu bulan. Selain itu, ada hal penting yang ingin kami tumbuhkan di sini, yaitu kebersamaan.

Panitia acara sudah mengatur jadwal kegiatan selama di pesantren. Gianti sibuk menjadi moderator, Sasa sibuk mendokumentasikan, Izan sibuk menelpon pembicara yang sengaja diundang, Angga dan Dini sibuk mondar mandir pasar membeli keperluaan saat acara, Saya dan Adib sibuk mempersiapkan “printilan” keberangkatan mereka. Beberapa alumni VTIC pun datang sekadar memberikan motivasi kepada volunteer yang akan diberangkatkan. Disela-sela waktu, saya mencoba berkomunikasi dengan Dimas yang sudah lebih dulu pergi ke Miri untuk persiapan pembukaan acara VTIC Cycle 4 di salah satu perusahaan kelapa sawit di Miri.

Malam harinya, kami sengaja menyuruh para volunteer untuk beristirahat lebih dulu karena perjalanan mereka masih sangat panjang sedangkan panitia mulai mengemasi barang-barang donasi yang akan disumbangkan untuk anak-anak Indonesia di sana. Sudah tiga malam kami hampir tidak tidur mengemasi barang-barang donasi. Alhamdulilah, tahun ini instansi pemerintah, perusahaan, komunitas, dan donatur banyak memberikan barang-barang keperluan sekolah dan mengaji. Malam terakhir, kami mewraping donasi yang akan masuk ke bagasi para volunteer. Seakan tak mengenal kata lelah dan mengantuk panitia masih berjibaku dengan package donasi dan barang bawaan volunteer. Malam ini saya menghitung jumlah bawaan mereka apakah melebihi tujuh kilo atau tidak karena airline hanya memberikan tujuh kilogram bawaan yang bisa dibawa ke cabin pesawat.

Canda, tawa, sekaligus haru saya rasakan melihat kegigihan panitia dan volunteer pengajar yang akan berangkat. Saya kembali teringat beberapa bulan lalu, ketika saya dan panitia mulai menyeleksi volunteer yang akan berangkat hingga pelatihan-pelatihan yang sengaja kami buat sebagai pembekalan sebelum mereka terjun langsung di Miri. Tenaga, pikiran, waktu, dan materi yang sudah panitia keluarkan adalah bentuk rasa kepedulian mereka terhadap adik-adik yang mereka temui satu tahun lalu. Mungkin ucapan terima kasih saja tidak cukup untuk membalas apa yang sudah mereka kerjakan selama setahun terakhir untuk organisasi VTIC. Saya bangga kepada panitia VTIC Cycle 4 yang sudah mau berkorban dan mengatur waktu kuliah mereka dengan berorganisasi di VTIC.

Waktu menunjukkan pukul 00.00 saya masih menghitung jumlah bawaan donasi yang akan volunteer bawa. 200kg! jumlah donasi yang akan dibawa. Sepuluh kardus bersar berisi baju, buku, tempat pensil, alat tulis, dan tas yang akan disumbangkan untuk anak-anak Indonesia di Miri. Inka sibuk memesan bagasi tambahan, sedangkan yang lain membantu volunteer mengemasi koper dan tas bawaan mereka yang dianggap kelebihan membawa barang. Shampo, sabun, dan alat mandi mereka yang dianggap memberatkan sengaja dihibahkan ke pesantren. Penerbangan mereka pukul 08.00 menuju Kuala Lumpur sehingga panitia tidak tidur sama sekali alih-alih takut terlambat. Kami sudah sepakat pukul 04.00 semua sudah berkumpul di Aula Pesantren dan jalan kaki menuju bus yang parkir di pinggir jalan.

Hawa dingin yang menyelimuti tubuh kami ikut mengiringi kepergian kami untuk anak Indonesia di Miri. Tepat pukul 05.00, kami pergi menuju Bandara. Kami terlelap sepanjang perjalanan, berharap kantung mata kami tidak terlihat seperti mata panda lagi. Sesampainya di Bandara, sudah ada dr. Iqbal yang menunggu di depan ruang tunggu bandara. Dokter? Iya dokter. Tahun ini saya berpikir harus ada tim kesehatan yang berangkat untuk memeriksa kesehatan anak-anak di Miri. Ternyata, broadcast yang saya buat dibaca dr. Iqbal dan beliau bersedia untuk ikut saya ke Miri menjadi volunteer. Tak hanya itu, saya memanggilnya “Ka Rini” seorang sarjana psikologi Universitas Indonesia dan alumni Indonesia Mengajar pun ikut kegiatan VTIC Cycle 4. Beliau memberikan motivasi dan pengetahuan mengenai parenting ke masyarakat (Tenaga Kerja Indonesia) yang ada di sana. Tidak ada hal yang tidak patut saya syukuri untuk semua yang sudah dikerjakan. Ternyata di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan masih ada orang yang ingin berbagi untuk masyarakat yang masih membutuhkan uluran tangan mereka. Tak mengenal suku, tak mengenal tempat, tak mengenal siapa yang mereka bantu, tetapi saya yakin hati mulia merekalah yang menggerakan untuk berbagi.

Setelah Check In, kami berdoa dan saya mengantar mereka hingga batas imigrasi. Sedih rasanya saya tidak bisa ikut dari awal acara karena jadwal kuliah mahasiswa baru yang harus saya jalani selama beberapa hari. Saya tak boleh menangis di depan mereka, walau memang terasa sesak di dada menahan tangisan. Saya yakin mereka pasti bisa dan saya titipkan para volunteer kepada Adib dan Angga yang sudah sering berpergian ke Miri. Saya berpesan untuk selalu berkomunikasi di sela-sela waktu mereka di sana nanti.

“Selamat mengabdi kawan, semoga Tuhan memberkahi perjalanan kalian…” gumamku dalam hati.

***

Sudah dua minggu saya berada di asrama “Stand By Force” pasukan pengamanan PBB, hari ini saya mendapat kuliah umum mantan presiden RI ke-6 yaitu Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Kampus saya belum memberikan izin kepada saya untuk tidak mengikuti perkuliahan selama 14 hari. Padahal saya sudah membeli tiket pesawat menuju Miri. Setelah materi Pak SBY (mantan presiden ke-6 Republik Indonesia, Pak M.Nuh (mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Pak Purnomo (mantan menteri pertahanan) saya mencoba memberanikan diri mengobrol dengan Bapak M. Nuh dan memberikan proposal VTIC kepada beliau. Beliau merespon positif kegiatan ini dan dari kejauhan saya melihat beliau menunjukkan proposal yang saya berikan kepada Pak SBY.

Hari jumat, sebelum mahasiswa IB (Izin Bermalam) dan meninggalkan asrama, saya masih menunggu surat yang menyatakan bahwa saya diizinkan oleh kampus untuk mengajar di Miri. Jantung saya berdegub kencang, keringat terus mengalir, dan saya beristigfar pasrah kepada Yang Maha Kuasa untuk keputusan yang akan diberikan kampus. Adzan Maghrib berkumandang, saya berada di ruang besar salah satu petinggi kampus beliau terkenal dengan dosen “killer”. Awalnya saya sudah pesimis tidak dizinkan, namun karena sudah beli tiket diizinkan atau tidak saya tetap harus berangkat. Obrolan dengan beliau kala itu menandakan rektor memberikan lampu hijau untuk saya.

Akhirnya setelah mendapatkan surat, saya langsung bergegas pulang ke asrama dan mengambil beberapa baju dan tas yang akan saya bawa ke Miri. Malam itu, saya masih mencari beberapa barang yang dititip oleh rekan-rekan di Miri. Jam 12 malam saya selesai packing barang dan mencatat barang yang belum sempat saya beli dan akan saya belikan esok hari sebelum berangkat ke bandara.

Keesokan harinya, saya menelpon sahabat saya Risma menitip bendera merah putih yang belum sempat saya beli. Risma dengan baik hati mau membelikan dan kami akan bertemu di bandara Soekarno Hatta nanti. Saya janjian dengan Ibu Ida dan Ibu Wilda dua orang mahasiswi pascasarjana Universitas Pakuan Bogor yang akan ikut mengajar guru-guru sekolah nonfromal Indonesia di Terminal Damri Bogor. Di tengah perjalanan menuju terminal lagi-lagi saya mengucapkan rasa syukur, karena Ibu Ida dan Ibu Wilda adalah orang yang tepat untuk mengajar guru-guru di sana. Ibu Ida adalah dosen salah satu universitas di Sukabumi dan Ibu Wilda adalah kepala sekolah taman kanak-kanak. Mereka akan mengajarkan administrasi pendidikan untuk guru-guru di sana. Tuhan memang selalu memberikan hadiah indah kepada hambanya yang bersabar. Mereka secara sukarela bahkan harus mengeluarkan biaya sendiri untuk tiket pulang-pergi Miri. Padahal kami tidak pernah bertemu sebelumnya bahkan berbincang tatap muka bisa dihitung jari, tetapi mereka percaya dengan kegiatan yang saya pelopori ini.

Siang ini saya sudah janjian dengan Ibu Ida dan Ibu Wilda di Terminal Damri Kota Bogor. Karena waktu mepet, sesampainya saya di terminal, kami bertiga langsung naik Damri menuju bandara. Perjalanan ini adalah perjalanan pertama kali bagi mereka ke luar negeri. Perjalanan pertama kami dari bandara Soetta menuju Kuala Lumpur. Seakan Bandara adalah rumah singgah bagi saya setiap ke Miri, saya selalu bermalam di bandara. Kami bertiga tidur di tempat transit, banyak wisatawan yang bernasib sama seperti saya mendapat jadwal penerbangan pagi hari dan harus bermalam di bandara. Saya berusaha memejamkan mata dan beristirahat walau hanya tidur beralas karpet.

Keesokan harinya, setelah check in hati saya mulai berdegub kencang dan excited, saya akan pulang ke rumah Bapak. Bertemu Emak dan Bapak angkat sekaligus adik-adik yang sudah hampir setahun saya tinggalkan. Sesampainya di Bandara, saya sudah dijemput Bapak dengan menggunakan Hilux. Senyuman khas bapak yang menunjukkan beberapa giginya yang hilang dan pelukan hangat Ika, adik kecil saya menjadi obat penawar rindu yang sudah lama saya rasakan. Finally I’m at home ….

Di perjalanan menuju rumah Bapak yang ditempuh sekitar 3 jam, saya teringat seseorang yang sudah lama saya rindukan. Seseorang yang sudah dulu menghadap Sang Pencipta. Lagu “See You Again” Wiz Khalifa ft Charlie Put yang diputar oleh salah satu radio Malaysia mengiringi perjalanan panjang saya dan mengingat kembali memori bersama Fauzan.

“Adik ku sayang apa kabar di sana? Lihat kakak sudah kembali ke Miri, sama seperti apa yang kamu harapkan. Kakak kembali untuk adik-adik kita,” gumamku dalam hati.

Tak terasa satu dua tetes air mata mengalir, bahagia karena bisa kembali dan sedih karena saya belum sempat mengatakan selamat jalan kepada adik saya hingga saat ini. Emak sudah mempersiapkan masakan spesial menyambut kedatangan kami bertiga. Di rumah Bapak sudah ada empat orang yang tinggal di sana. Galasah, nama yang sudah tidak asing lagi bagi saya dan akan menjadi tempat tinggal saya selama beberapa hari kedepan.

Indah, Gia, dan Umi adalah volunteer yang ditempatkan di Galasah. Angga juga tinggal bersama mereka di rumah Emak. Rumah Emak bukanlah rumah mewah yang memiliki banyak kamar. Di sana (tempat TKI), adalah rumah panggung kayu yang terdiri dari dua kamar tidur, satu ruangan tamu, dapur dan kamar mandi. Saya terbiasa tidur di ruang tamu. Jadi, kamar diisi oleh Ibu Ida dan Ibu Wilda. Canda tawa melepas rindu, inilah suasana kekeluargaan yang saya rindukan. Dulu saya adalah orang asing di rumah ini, tetapi sekarang mereka sudah menanggap saya seperti anak mereka sendiri. Ternyata Adib, Dimas, dan Ka Rini juga sudah ada di rumah Emak. Rumah mungil ini kini diisi oleh 12 orang dewasa dan satu anak kecil. Bapak sengaja membelikan saya Kasur untuk tidur. Malam pun diisi dengan cerita dan kegiatan selama setahun terakhir, tempat favorit kami adalah halaman belakang rumah bapak. Disitulah kenangan demi kenangan yang saya rindukan. Masih di tempat yang sama hanya orang-orangnya saja yang silih berganti. Dan di tempat inilah tempat saya sering makan sepiring berdua dengan adik saya, Fauzan.

***

Pagi ini, tepat tanggal 17 Agustus kami bersiap untuk melaksanakan upacara bendera di sekolah. Karena tidak dizinkan perusahaan untuk upacara di halaman sekolah terpaksa kami memperingati hari kemerdekaan di dalam sekolah. Para volunteer sudah menyaiapkan petugas upacara dan saya dipilih untuk menjadi Pembina upacara. Semua murid Galasah dan Pinang sudah  berkumpul di sekolah. Indah masih melatih beberapa petugas. Umi dan Gia sedang menyiapkan perlengkapan upacara. Nira, Rizky, dan Ajeng sibuk merapihkan barisan anak-anak. Maklum mereka tidak pernah mengenal istilah upacara jadi mereka terlihat agak kesulitan saat mengatur. Upacara bendera hari ini adalah upacara bendera kedua kalinya yang pernah mereka lakukan. Tahun lalu, masih dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan para volunteer VTIC Cycle 3 mengadakan upacara bendera.

Semua sudah berkumpul, kami melakukan gladi resik satu kali sebelum upacara dimulai. Upacara pun dimulai, semua tenang dan khidmat merayakan hari besar negara kami tercinta. Saya jadi teringat akan lagu tanah airku …

“walaupun banyak negeri ku jalani, yang mahsyur permai di kata orang…
Tetapi kampung dan rumahku di sanalah ku merasa senang….

Ya, kampong… kami merindukan kampong kami yang nan jauh di sana. Kampong tempat kami lahir dan dibesarkan. Kami rindu tanah air…”

Saya pun memegang secarik kertas yang sudah saya tulis dengan kata-kata yang akan saya sampaikan. Disisi sebelah kanan saya ada beberapa volunteer, Ibu Ida, Ibu Wilda, Ka Rini, Angga, Adib, dan Dimas yang sedang berbaris. Saya melihat Adib pindah posisi ke pojok belakang barisan.

“Pengibaran Sang Merah Putih oleh pengibar bendera,” ujar Ika selaku pembawa acara upacara kemerdekaan.

Indah melatih tim pengibar bendera sehingga mereka bisa sedikit mengerti baris berbaris. Tiang bendera yang kami gunakan adalah pipa yang disemen dibekas ember. Bapak berinisiatif untuk membuat tiang bendera, supaya bendera Indonesia bisa berkibar di sekolah katanya. Bendera tidak diikatkan di tali tiang melainkan diikat langsung di tiang pipa yang berdiri kokoh. Tak mengenal loaksi dan tempat, Sang Merah Putih tetap berkibar kokoh pada tempatnya. Kami pun menghormati Sang Merah Putih yang sudah berkibar.  Walaupun hanya bisa mengibarkan bendera di dalam kelas, tetapi seluruh volunteer menangis terisak-isak menyanyikan lagu Indonesia Raya. Teringat kampong halaman, teringat kehidupan di tanah air. Dulu saya tidak pernah meresapi makna upacara bendera di sekolah. Namun sekarang saya bisa merasakan betapa pentingnya upacara ini dilakukan untuk menanamkan rasa nasionalisme.

Ketika memberikan pesan saat upacara, saya berharap guru-guru dan murid-murid masih bersemnagat untuk melanjutkan kegaitan belajar mengajar di sekolah. Saya pun menahan air mata yang sudah lama saya pendam. Saya tak ingin dinilai cengeng oleh mereka, saya harus kuat sama seperti mereka. Usai upacara bendera kami mengabadikan moment ini dengan berfoto bersama. Haru dan bangga kepada para volunteer, cikgu, dan anak-anak yang berhati baja tak pernah mengeluh dengan keadaan mereka sekarang.

***

Esok hari, saya membagi dua tim untuk pelatihan guru-guru sekolah nonformal. Saya, Ibu Ida, dan Kak Rini sedangkan Ibu Wilda dengan Dimas. Adib sibuk mengurusi donasi peralatan sekolah Telabit tempat penutupan nanti. Kebetulan hari itu, Ika berulang tahun sehingga ada beberapa guru yang datang ke rumah Emak dan kami bisa mulai pelatihan dengan beberapa guru. Di Miri, satu sekolah nonformal Indonesia hanya terdapat satu sampai dua orang guru saja. Mereka adalah Tenaga Kerja Indonesia yang memiliki ijazah sekolah sehingga pihak perusahaan mengangkat mereka sebagai guru. Hari ini giliran Cikgu Rahma, Cikgu Rasna, dan emak yang diajarkan administrasi pendidikan. Mereka setiap tahun mendapatkan pelatihan guru dari KJRI Kuching tetapi menurut mereka pelajaran administrasi pendidikan belum diajarkan dan diterapkan padalah sekolah sudah berjalan selama lima tahun lebih.

Ibu Ida memang sudah mempersiapkan materi yang akan diajarkan kepada guru-guru disini dari Indonesia. Pelatihan ini memang sangat singkat, kami menargetkan satu hari satu sekolah. Hal dasar seperti absen dan buku nilai ternyata sebagian besar tidak tahu dan tidak memilikinya. Sebenarnya, ini keadaan yang sudah saya dan ibu Ida perkirakan. Sayangnya karena kami tidak bisa membawa bagasi terlalu banyak, buku absen dan buku nilai tidak bisa kami bawa untuk para guru. Malamnya, Ibu Wilda dan Dimas mulai berpencar ke daerah lain. Mereka mengadakan pelatihan ke Saremas, Segarmas, Ladang Tiga, dan berakhir di Telabit. Sedangkan saya akan pergi ke Pinang, Lavang, Lambir, Bukit Paninjau dan berakhir di Telabit.

Keesokan harinya, saya, Ka Rini, dan Ibu Ida pergi ke Sekolah Nonformal Indonesia Lavang. Pagi hari kami bergegas ke depan gerbang Galasah dan menaiki bus menuju Lavang. Sesampainya di gerbang kami sudah dijemput oleh tiga orang pria. Jarak yang harus kami tempuh sekitar 40 menit melewati perkebunan kelapa sawit. Di sana sudah ada Ganang, Zaenal, Wahid, Ayat, dan Fitrah sebagai volunteer mengajarnya. Mereka saya sebut boy bandnya VTIC cycle 4. Ka Rini meminta anak-anak memanggil orang tuanya untuk datang ke sekolah.  Saya dan Ibu Ida mulai mengajar empat guru yang mengajar di Lavang. Sekolah nonformal Lavang merupakan sekolah yang baru diresmikan setahun yang lalu oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI). Di sini sekolahnya sudah bagus dan sudah memiliki dua ruang kelas dengan listrik 24 jam. Gurunya pun sudah ada empat dan salah satu dari mereka ada yang sudah lulus sarjana. Adminsitrasi pendidikan di sekolah ini sudah lumayan baik, mereka mendapat pelajaran ini dari sekolah kebangsaan Malaysia yang diminta oleh perusahaan. Walau sudah baik, tetapi masih banyak yang harus ditambahkan guna memperbaiki administrasi pendidikan disini.

Sore hari kami pulang diantar oleh mobil dari perusahaan. Keluarga di Galasah sudah menunggu kami untuk makan malam bersama. Keesokan harinya kami bertiga pergi ke Sekolah nonformal Lambir. Perjalanan menuju lambir cukup jauh, jarak tempuh yang dilewati sekitar dua jam. Lambir adalah sekolah yang dekat dengan kota Miri. Di sana ada dua orang cikgu yang mengajar. Mereka adalah Cikgu Sundari dan Cikgu. Para volunteer membantu Ka Rini menginformasikan orang tuanya untuk datang ke sekolah sore hari. Kami mulai mengajar hal yang sama di sekolah ini.

Awalnya Ibu Ida menanyakan administrasi pendidikan di sekolah nonformal Lambir. Sayangnya mereka belum mengetahui tentang apa itu administrasi pendidikan. Absen daftar hadir pun tidak ada. Akhirnya ibu Ida dengan sabar menjelaskan administrasi pendidikan. Di tengah terik panas matahari, kami terus melanjutkan pelatihan untuk guru. Bahkan keringat mengucur deras di tubuh saya, tetapi saya melihat Ibu Ida masih semangat memberikan materi. Saya meninggalkan ibu Ida dan dua cikgu untuk menyapa anak-anak yang sedang berlatih menari.

Aldo, Wahyudi, dan Desi sedang melatih anak-anak untuk persiapan penutupan VTIC. Kemudian Aldo, menuntun saya menghampiri seorang anak laki-laki berbaju kusam yang sedang menulis.

“Ka ini ka, jago banget break dance,” ungkap Aldo.

“Ah masa, coba kakak mau lihat,” Jawabku.

“Ayo nari, Kak Ine mau lihat,” ujar Aldo sambal menarik tangan anak laki-laki itu.

Dengan malu-malu anak itu, maju ke depan kelas dan mulai beraksi. Diiringi lagu beat beberapa anak mulai menari, tangan dibawah kaki di atas  seperti melihat pertunjukkan break dance di acara televisi. Ternyata mereka memang suka menari dan keahlian mereka diasah secara otodidak. Ah betapa alam sangat bersahabat, angin sedikit sedikit mulai terasa dari jendela kelas. Ketika listrik mati, ternyata Tuhan masih berbaik hati menyejukkan hati dan pikiran kami semua di sini. Tak ada yang perlu dikeluhkan dalam keadaan ini, bersyukur adalah cara terbaik untuk melewatinya.

Selepas mengajar kami diajak untuk beristirahat di rumah Cikgu Sun. Kami makan siang dan beristirahat disini. Listrik tidak menyala 24 jam di Lambir. Masyarakat mendapat jatah listrik hanya beberapa jam. Listrik pertama menyala dari pukul 04.00 hingga 06.00 dan akan mati lagi dari pukul 06.00 hingg 18.00. listrik kedua menyala dari pukul 18.00 hingga 22.00. Saya terlelap di pojok ruang tamu rumah Cikgu Sun. saat terbangun ternyata Ka Rini sedang memberikan pelatihan parenting kepada orang tua murid di sekolah. Saya bergegas ke sekolah dan acara usai setelah saya sampai sekolah.

Sore hari langit biru Lambir menemani kepulangan saya ke Galasah, Cikgu Sun mengantarkan kami bertiga ke depan pintu gerbang perusahaan. Sebenarnya saya masih merindukan suasana di sekolah ini, sudah dua tahun saya meninggalkan sekolah ini rasanya sehari saja tak cukup mengobati rasa rindu saya. Banyak perubahan ketika para volunteer datang ke Lambir. Mereka disambut baik oleh TKI di Lambir bahkan saat upacara 17 Agustus, para volunteer sengaja mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi memperingati hari kemerdekaan. Mereka pun saling bercengkrama dan para volunteer mendapat penghargaan dari TKI. Ah betapa senangnya saya mendengar cerita itu. Setidaknya saya pulang dengan hati lega melihat mereka bisa bercampur baur tak mengenal suku, agama, dan lokasi tinggal.

Saya, Ka Rini, dan Ibu Ida menikmati senja dipinggir jalan kota Miri, tak banyak mobil yang melintas di jalanan ini. Sambil menunggu kedatangan bus yang akan mengantar kami pulang ke rumah Bapak, kami memanfaatkan waktu dengan mengambil beberapa foto di pinggir jalan. Pemandangan ilalang dan bukit menjadi background foto kami. Dari situlah, saya berpikir bahwa kami bertiga adalah tiga wanita yang berani mati.

“Ka aku namain kita bertiga geng BM,” ujarku sambal melihat hasil foto.

“Apa tuh BM?” tanya Ibu Ida.

“Berani mati bu hehe.” Jawabku.

“Ah, ada ada aja Si Eneng mah,” ujar Ibu Ida sambal tertawa.

Kami bertiga kemudian tertawa. Saya menjelaskan bahwa kami seperti anak STM yang sedang menunggu mobil truck kosong kemudian menumpang. Jalanan masih sepi, belum ada satupun bus menuju Bintulu yang lewat sementara matahari seakan sudah lelah menemani hari-hari kami. Saat matahari sudah mulai tenggelam, bus merah menuju Bintulu pun lewat dan kami bergegas menaiki dan kembali pulang.

***

Keesokan harinya, kami masih harus pergi ke Bukit Paninjau. Sebenarnya lokasi Bukit Paninjau tak jauh dari Lambir. Namun untuk masuk ke perusahaan dan sekolah nonformal Indonesia saya harus menyetop mobil Hilux perusahaan atau menebeng mobil pribadi dengan cara “BM” atau hitch hiking. Sesampainya kami di depan gang besar menuju bukit paninjau, kami menyempatkan diri untuk berfoto. Terik matahari masih sama seperti kemarin, seakan menusuk ke kulit tetapi kami masih menunggu tumpangan mobil gratis perusahaan yang mau membawa kami ke sekolah nonformal bukit paninjau.

Saya masih berpikir, entah hati mereka terbuat dari apa atau mengapa mereka masih mau bersusah payah bersama saya untuk melewati hari-hari susah dan menjadi geng Berani Mati (BM) di Miri. Keikhlasan yang tidak ada batasannya merupakan kunci mengapa kami masih bertahan disini. Akhirnya ada satu mobil hilux yang berhenti. Saya mengejar mobil itu, dan bertanya kepada supir.

“Lewat bukit paninjau pakcik?” tanya saya dengan logat melayu.

“Nak mane?’ tanya supir.

“Sekolah nonformal Indonesia pakcik di bukit paninjau, jawab saya sambil menutupi sebagian muka karena terik matahari.

“Ohya, naiklah dibelakang,” jawabnya.

Akhirnya kami resmi menjadi geng “BM” ala anak STM. Kami bertiga menaiki mobil yang cukup tinggi. Walaupun sudah ibu paruh baya, namun Ibu Ida masih semangat mengikuti cara saya mengembara Miri dan Bintulu. Kami bergegas menaiki dan Pakcik pun langsung menggas kencang mobilnya. Jalanan menuju melewati perkebunan kelapa sawit yang berliku yang terlihat seperti bukit. Angin berhembus kencang karena tempat kami duduk hanya ditutup pinggir dan atas saja. Kerudung kami sudah tak berbentuk, saya sempat membuat video sebagai kenang-kenangan. Sekitar 30 menit kami berada di mobil dan sampai di depan pintu gerbang sekolah nonformal Indonesia Bukit paninjau.

Di depan sekolah sudah ada tiga volunteer yang menunggu. Mereka adalah Yasmin, Palupi, dan Fasha. Diantara para volunteer yang saya tempatkan di seluruh sekolah nonformal, mereka bertigalah yang tidak tinggal dan harus masak sendiri di guest house. Untung tetangga, cikgu upik, dan masyarakat terkadang mengantarkan mereka makanan. Di sini ada dua cikgu atau guru. Satu dipanggil cikgu besar karena sudah lama mengajar dan cikgu upik yang sangat sabar menghadapi murid-murid. Tak menunggu waktu lama, saya langsung memberikan pelatihan administrasi pendidikan. Ibu ida mulai mengeluarkan kertas-kertas sakti untuk memberikan pelatihan. Sedangkan saya menghampiri ketiga volunteer yang sedang asyik mengobrol dengan Ka Rini.

Ternyata banyak cerita atau drama di sekolah ini. Cikgu besar tidak menyukai kehadiran volunteer. Dia menganggap bahwa kedatangan kami hanya memanjakan anak-anak di sekolah bukit paninjau. Padahal itu hanya bentu kasih sayang para volunteer kepada anak-anak. Di sekolah ini, hanya anak-anak taman kanak-kanak sampai kelas tiga lah yang belajar disini. Jadi bisa dibayangkan, sekolah yang hanya memiliki satu ruangan kelas dimana ruangan tersebut anak-anak belajara untuk semua tingkatan kelas dan ada Cikgu upik yang setiap harinya memasak untuk makan anak-anak. Keadaan inilah yang membuat para volunteer berinisiatif untuk memberikan perhatian lebih ke mereka. Namun cikgu besar menggap sebaliknya.

Saya memberikan sedikit saran untuk para volunteer tetap bersabar. Sebentar lagi saya akan memberikan kejutan untuk mereka. Di sekolah ini, masih sama dengan sekolah yang lain. Administrasi pendidikan belum ada. Bahkan Cikgu upik terkadang kewalahan menghadapi anak-anak yang dia ajarkan. Akhirnya Ibu Ida memberikan beberapa metode belajar yang bisa membantu anak-anak untuk lebih focus dan tertib. Terlihat banyak hiasan di sekolah ini, para volunteer sengaja menghias kelas supaya anak-anak lebih betah dan senang berada di kelas walaupun sekolahnya hanya memiliki satu ruangan kelas.

Setelah memberikan pelatihan, saya memberikan kejutan kepada para volunteer dan cikgu. Saya sengaja tidak memberi tahu mereka bahwa Bapak Arie, Atase Pendidikan KBRI Kuala Lumpur, akan mengunjungi sekolah ini. Terdengar suara mobil dan beberapa orang yang sedang turun dari mobil. Pak Arie dan rombongan volunteer serta cikgu Lambir pun berkunjung ke sekolah ini. Pak Arie kemudian melihat kondisi sekolah dan memberikan wejangan kepada kami semua.

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00, Pak Arie dan rombongan berkunjung sebentar ke kantor pusat perusahaan. Kami bertemu dengan salah satu manajer perusahaan kelapa sawit dan mengobrol sebentar. Tak lama Pak Arie dan rombongan berpamitan untuk pulang. Masih ada sekolah yang menunggu kehadiran Atase Pendidikan KBRI Kuala Lumpur. Saya pun kemudian melanjutkan kegiatan di Bukit Paninjau. Disini saya memberanikan diri membawa motor ke rumah para TKI yang jaraknya lumayan jauh dari sekolah. Jalanan berbatu dan sempit berhasil saya lalui. Saya membonceng Yasmin, untung perawakannya kecil sehingga saya masih bisa menyeimbangkan motor di jalan bebatuan.

Ibu-ibu yang juga TKI mulai berkumpul di rumah Agus salah satu murid bukit paninjau. Ka Rini mulai memberikan motivasi kepada ibu-ibu akan pentingnya pendidikan dan pola asuh anak yang baik. Setelah acara selesai, kami bergegas pulang ke rumah tempat volunteer tinggal. Perusahaan berbaik hati mau mengantarkan kami sampai di pintu masuk jalan utama menuju bukit paninjau. Pakcik Adam yang bersedia mengantarkan kami bertiga ke depan. Setelah berpamitan dan memberikan saran untuk bersabar, saya seakan berat meninggalkan mereka bertiga di sana.

Pakcik Adampun bertanya kami akan ke Galasah menggunakan kendaraan apa. Tentunya bus adalah satu-satunya transportasi yang bisa mengantarkan kami pulang. Sesampainya di halte tempat menunggu bus, Pakcik Adam berubah pikiran beliau mau mengantarkan kami sampai Galasah.

“Saye khawatir kalian akan diganggu oleh orang jahat. Disini banyak orang jahat dan mabuk bila sudah petang. Saya call bos saya dulu untuk meminta izin,” ujarnya.

Kami pun dengan senang hati menerima tawaran tersebut. Melihat keadaan terminal yang sepi dan gelap saya mengurunkan niat untuk menolak tawaran Pakcik Adam. Akhirnya Pakcik Adam mengantarkan kami pulang. Sepanjang jalan, kami mengobrol tentang Malaysia dan Indonesia. Logat khas melayu Pakcik Adam membuat perjalanan ini semakin riang. Sesekali kami tertawa karena Bahasa yang sama-sama tidak kami mengerti. Kami pun sampai di Galasah dengan selamat.

***

Malam ini adalah malam terakhir kami di Galasah, Umi sudah bersiap-siap untuk acara perpisahan di sekolah. Saya masih tidak percaya, sudah hampir seminggu saya di Galasah dan esok saya akan kembali merindukan temapat ini. Emak sedang bersiap-siap untuk mengadakan pesta kecil-kecilan. Kami biasa makan malam dengan lauk yang enak di acara perpisahan ini. Saya tidak ingin melihat anak-anak menangis karena besok kami akan harus meninggalkan mereka. Akhirnya saya mengurungkan diri untuk datang ke sekolah lebih awal.

Sesampainya di sekolah ternyata acara sudah selesai, dan saya melihat umi sedang memeluk satu persatu anak murid kami. Ah inilah moment yang sangat saya tidak suka, mengucapkan kata perpisahan kepada mereka. Padahal saya baru saja melihat anak-anak kembali semnagat untuk belajar, tetapi kami harus pulang. Tugas kami sudah selesai, walau masih banyak yang belum tuntas kami kerjakan. Anak-anak mengantar para volunteer sampai rumah bapak. Banyak anak yang tidak mau pulang dan meminta untuk ikut ke acara perpisahan VTIC esok di Telabit. Namun sayang kendaraan tidak bisa membawa anak-anak untuk ikut pergi ke Telabit besok.

Esok ruangan sekolah yang hanya memiliki satu ruangan itu akan kembali sepi. Sepi oleh pengajaran yang diberikan volunteer. Esok tidak ada lagi nyanyi-nyanyian atau yel yang sering volunteer buat untuk menyemangati anak-anak belajar. Esok tidak ada lagi mandi lumpur yang sering dilakukan para volunteer untuk bermain bersama anak-anak. Esok semua akan kembali normal seperti sebelum kami datang, anak-anak akan kehilangan sosok kakak yang mengayomi dan menyayangi mereka. Esok “Laskar Sawit” kami akan kembali lambat tumbuh dan berkembang seperti sedia kala. Dan esok kami akan pulang.

***

Sepulangnya dari sekolah, saya kembali ke rumah Bapak. Di sana sudah berkumpul beberapa TKI kami makan bersama. Inilah yang akan saya rindukan ketika saya pulang ke tanah air. Kebersamaan yang belum tentu bisa saya dapatkan ketika saya baru memasuki kehidupan orang-orang baru. Tapi disini, saya merasakan seakan saya sudah lama mengenal mereka, seakan saya merasakan apa yang mereka rasakan, dan seakan hati ini tak ingin pulang. Saya tahu orang yang paling sedih ketika kami pulang adalah bapak. Setiap malam kami selalu mengobrol di halaman belakang. Bapak yang duduk diayunan yang ia buat sendiri selalu bercerita pengalaman hidupnya selama ia merantau di Malaysia. Semoga Tuhan selalu melindungi mereka yang sedang merantau, mencari nafkah, dan meninggalkan sanak sodaranya di kampong halaman. Saya berdoa dalam hati,

“Ya Tuhan jaga mereka dan berikan saya kesempatan untuk kembali ke sini… doaku dalam hati.

Keesokan harinya kami menaiki barang-barang kami ke atas Lori atau truk pengangkut kelapa sawit yang sengaja dipinjam untuk mengantarkan kami ke Telabit. Anak-anak yang akan mengikuti kegiatan perpisahan sudah stand by di rumah sejak pagi. Ibu-ibu sudah berkumpul untuk sekadar bersalaman dan mengantar kepulangan kami. Pak Arie dan Pak Nasrul pun hadir di Galasah, karena waktu sudah mepet. Akhirnya kami bergegas untuk pergi ke Telabit. Sayonara Galasah, semoga kita berjodoh untuk bertemu kembali.

Sesampainya di Telabit, sudah banyak murid dari seluruh sekolah nonformal Indonesia se-Serawak berkumpul. Para volunteer sudah sibuk menyiapakan kebutuhan acara. Perpisahana akan dimulai sore ini, Pak Arie yang akan membuka sekaligus menutup acara ini. Dan beiau akan kembali ke Kuala Lumpur pada malam harinya. Adib, Dimas, Angga pun membantu panitia acara. Semua sudah meiliki tanggug jawab dan tugas masing-masing.

Acarapun dimulai, sekolah telabit lama lah yang digunakan untuk acara ini. Sambutan Pak Arie adlah acara yang ditunggu-tunggu oleh semua orang yang hadir. Menjadi sebuah kehormatan dan kebanggan bagi saya dan ara volunteer ketika ada pejabat negara yang mau meluangkan waktunya untuk hadir di acara yang sangat sederhana ini. Tak hanya itu, Pak Agus, Atase Pendidikan sosial dan kebudayaan KJRI Kuching juga ikut hadir dalam acara ini. Beliau menyampaikan anak-anak harus tetap bersemanagat untuk sekolah dan izin pamit karena akan memasuki masa pension akhir buklan Agustus ini. Kami berharap kedatangan beliau adalah bentuk dari rasa tanggung jawab pemerintah akan warga negaranya. Saya berharap apa yang Pak Arie sampaikan mengenai pentingnya pendidikan akan mengubah mind set orang tua yang tidak megizinkan anaknya untuk bersekolah.

Setelah Pak Arie memberikan kata sambutan, beliau bersama Pak Agus berpamitan kepada semua yang hadir. Suasanapun masih sangat ramai dan sesak.

Malam harinya, kami mengadakan pentas seni dan budaya. Setiap sekolah akan menampilkan tarian daerah dan drama yang sudah mereka persiapkan beberapa minggu ini. Para volunteer mempersiapkan kostum dan lagu yang akan ditampilkan. Semua murid menggunakan kostum tradisional Indonesia. Memang tak semuanya menggunakan kostum yang sama dengan aslinya. Para volunteer harus bisa berkreasi menggunakan baju seadanya untuk acara ini. Seperti SD Nonformal Galasah yang akan menampilkan tarian papua. Saya ingat Umi, Gia, dan Indah menggunakan dedaunan yang ada di kebun depan sekolah. Mereka menggunakan tali rapia untuk bawahan ro yang digunakan.

Acara semakin meriah karena Dina dan Ayat menjadi MC. Semua tertawa, bahagia, dan menari bersama. Moment kebersamaan ini yang akan dirindukan anak-anak Indonesia disini. Pasalnya acara seperti ini tidak pernah diadakan sebelumnya oleh guru-guru dan masyarakat. Malam ini terasa begitu cepat, padahal saya ingin meluangkan waktu lebih lama disini. Bercengkrama dengan anak-anak, bertukar pikiran dengan para guru, dan berdiskusi dengan para volunteer. Sayanganya, inilah detik-detik terakhir sebelum saya akan kembali pulang ke tanah air.

Tengah malam kami mengadakan acara api unggun. Murid-murid dari Sekolah Saremas dan Rajawali yang menjadi petugas acara. Mereka menggunakan pakaian pramuka lengkap dan sudah berlatih sebelumnya. Sebelum acara dimulai, setiap sekolah meneriakan yel-yel. Malam ini bintang bertaburan di langit Miri, terlihat ikut memeriahkan acara perpisahan ini. Anak-anak terlihat begitu semangat walau sudah larut malam. Saya seperti ingin menghentikan waktu dan biarkan mala mini menjadi malam yang panjang. Tak lama setelah yel-yel, upacara api unggun pun dimulai. Semua menikmati hangatnya api yang membari di tengah lingkaran yang kami buat. Udara yang dingin berubah menjadi hangat oleh api dan kebersamaan.

Hanya beberapa jam mengejamkan mata, pagi harinya kami sudah membangunkan anak-anak untuk mengikuti senam pagi dan sarapan bersama-sama. Palupi dan Linda memimpin senam pagi. Sementara volunteer yang lain mengikuti mereka. Anak-anak pun terlihat bersemangat mengikuti senam pagi. Setelah itu, mereka bersiap untuk acara festival budaya VTIC Cycle 4. Masih menggunakan kostum yang sama seperti semalam, anak-anak terlihat rapi dan cantik. Anak perempuan diberika sedikit goresan make up oleh guru-gurunya.

Udara masih sejuk, anak-anak sudah berbaris rapi untuk mengeliling kampung Telabit. Sesekali dari mereka meneriakkan yel-yel. Masyarakat pun ikut menonton acara kami. Para volunteer membuat beberapa pos dimana di setiap posnya setiap sekolah harus menjawab dan melakukan hal yang sudah di atur oeh panitia, seperti menjawab pertanyaan dan memberikan yel terbaiknya. Saya berjaga di pos terakhir dengan Adib dan Ayat. Di pos ini, kami hanya berfoto bersama dan membuat video. Lucunya, ketika matahari sudah terik beberapa murid sudah mengeluh kepanasan dan kami hanya menyemangati mereka. Terikan yang sama diucapkan

“Kami dari sekolah nonformal Indonesia untuk VTIC Cycle 4. Aku anak Indonesia….”

Setelah festival budaya, beberapa perlombaan dimulai. Anak-anak mengganti pakaian merek dengan pakaian olahraga. Perlombaan outdoor adalah perlombaan yang dinanti-nanti. Kami menggunakan lapangan dekat sekolah untuk mengadakan perombaan olahraga.  Sorak sorai teriakan orang-rang yang menonton menambah keramaian acara. Para supporter meneriakan nama sekolahnya dan yel-yel untuk menyemangati anak-anak yang sedang berlomba. Di perlombaan terakhir, volunteer mengadakan lomba Tarik tambang dengan masyarakat. Kami tidak berdaya dan kewalahan berlomba dengan TKI yang setiap harinya bekerja di ladang kelapa sawit.

Setelah perlombaan selesai, kami membagikan hadiah untuk para pemenang lomba. Anak-anak terlihat senang mendapat hadiah walau hanya sebuah buku, pensil, dan penghapus. Setelah itu, Fasha dan Palupi mempersembahkan puisi untuk para guru yang sudah bekerja keras mendidik anak-anak Indonesia. Air mata kami sudah tak tebendung lagi, ruangan menjadi penuh sesak. Panitia VTIC dan para volunteer naik ke atas panggung. Kami bergandengan, bernyanyi, sambal sesekali air mata terus mengalir. Murid-murid kamipun menangis, mereka tahu kami akan berpisah dalam hitungan menit. Para guru memalingkan muka, mata mereka merah dan tak bisa juga menahan air mata. Kami semua menangis dalam ruangan sekolah. Setelah itu, kami menghampiri setiap murid. Berpelukan erat, mengahapus air mata mereka, dan menjabat tangan murid-murid dan guru. Mobil yang menjemput mereka sudah berdatangan di luar sekolah. Barang-barang sudah dimasukkan oleh masyarakat dan para orang tua murid yang ikut menjemput. Sore ini di tengah perkebunan kelapa sawit kami berpisah.

 

 

Leave a Reply

Close Menu