MENUNTASKAN JANJI MASA KECIL

Oleh: Ahmad Adib (VTIC Cycle 2)

Salah satu orang yang beperan penting dalam pendidikan anak-anak TKI di Sarawak adalah Muhammad Salim. Sosok sederhana ini lahir pada 23 Oktober 1989 di Goa, Sulawesi Selatan. Sejak usia lima tahun, Salim kecil sudah bekerja sebagai pengembala kerbau sampai dengan usianya sepuluh tahun. Ketika berumur tujuh tahun, Salim kecil ini sangat menginginkan sekolah seperi teman-teman sebayanya namun itu masih bisa menjadi angan belaka. Di usianya yang menginjak delapan tahun, Salim kecil telah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa apabila dia telah mampu mengenyam pendidikan maka dia akan akan bersekolah bukan hanya untuk dirinya sendiri, namun juga untuk Indonesia.

Di usianya yang beranjak sepuluh tahun, barulah Salim kecil bisa bersekolah berkat bantuan seorang guru di sekolah tersebut. Guru tersebut membantu Salim untuk bersekolah ketika melihat keinginan yang besar pada diri Salim kecil yang tiap hari melihat teman-temannya dibalik jendela sekolah. Ketika usianya sepuluh tahun, Salim kecil baru bisa memulai bersekolah di kelas satu sekolah dasar, namun karena kecerdasan yang dimilikinya, Salim mampu menyelesaikan sampai kelas lima dalam waktu satu tahun.

 Ketika mulai bersekolah pun, Salim kecil harus bangun lebih pagi pada pukul 4 pagi untuk membersihkan rumah dan mempersiapkan pangan untuk hewan-hewan milik majikannya tersebut. Hal tersebut bukan menjadi halangan Salim kecil untuk berprestasi, bahkan ketika kelas enam sekolah dasar, Salim mampu meraih peringkat pertama se-Kecamata Bunaya, Kabupaten Gowa. Salim selanjutnya melanjutkan studinya ke SMPN 23 Makassar yang dilakukannya dengan bekerja kasar, dari tenaga kuli bangunan, kuli sapu jalanan, sampai menjadi asisten rumah tangga dikarenakan harus menanggung biaya hidupnya sendiri.

Salim remaja mempunyai mimpi untuk bisa melanjutkan SMA-nya di salah satu sekolah favorit, SMU Negeri 1 Minaha melalui beasiswa. Mimpi ini pun terwujud dan bahkan mendapatkan peringkat kedua dari ribuan pendaftar pada masa itu. Salim remaja mulai mengikuti MOS (Masa Orientasi Siswa) di SMU-nya tersebut, namun ketika ditengah pelaksanaan MOS, semua peserta dikenakan biaya Rp. 1.750.000,- sebagai syarat administrasi. Dikarenakan Cikgu Salim tidak membawa uang sepeser pun, Salim akhirnya harus mengubur mimpinya untuk bersekolah dan pulang ke kampung halamannya di Goa.

Ketika sampai di rumahnya, Salim langsung memeluk mamak­-nya dan berkeluh kesah tentang ketidakmampuan bersekolah di SMU impiannya. Mamak­ menasihtkan kepada Salim untuk berwudlu dan berdoa pada Yang Maha Kuasa. Pada malam harinya pun Salim mendapatkan kabar dari temannya bahwa dia diterima di SMAN 12 Makassar dan besok adalah hari terakhir registrasi siswa. Bersama dengan mamak­-nya, Salim pergi ke rumah pamannya dan meminjam uang untuk registrasi dengan berbebankan bunga 6%. Jarak dari rumahnya ke rumah pamannya dan ke Makassar menghabiskan waktu 7 jam dan membuat mereka terlambat untuk mendaftar ulang.

Salim termenung melihat gerbang sekolah tersebut yang sudah terkunci rapat. Salim pergi ke masjid dekat sekolah tersebut dan berkeluh kesah kembali kepada Sang Maha Pengatur dan Salim merasa ini adalah akhir dari segala kisah berlikunya untuk bersekola. Di masjid tersebut, Salim bertemu dengan Pak Ketut yang pernah diundangnya ketika mengadakan acara di SMP-nya dahulu. Pak Ketut mengingat Salim sebagai Ketua OSIS di SMP tersebut dan ternyata Pak Ketut adalah guru dan menjadi panitia penerimaan siswa baru SMAN 12 Makassar. Berkat bantuan Pak Ketut, Salim akhirnya bisa bersekolah di SMA tersebut. Masa-masa SMA Salim lalu dengan penuh perjuangan, Salim harus tinggal di masjid sekolah sebagai marbot (penjaga masjid) dan juga sebagai penjaga  serta pembersih sekolah. Itu semua bukan halangan bagi Salim untuk tetap bisa berprestasi, Salim terpilih menjadi salah satu delegasi Makassar untuk mengikuti Olimpiade Pendidikan di Yogyakarta.

Setelah lulus SMA, Salim sempat menginginkan untuk menyelsaikan saja studinya dan mulai fokus bekerja. Berkat motivasi teman-temannya termasuk bantuan finansial, Salim mendaftar UMB dan diterima Akuntansi Universitas Indonesia. Datanglah Salim ke Depok untuk mendaftarkan kuliahnya namun karena uang pendaftaran yang tidak mampu dia bayar, kembalilah Salim ke Makassar. Salim juga diterima di Sastra Perancis Universitas Makassar dan mulai berkuliah di kampus tersebut dengan kembali mendapatkan banyak halangan.

Belum sampai mendapatkan gelar sarjana, Salim pergi untuk bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia di Perkebunan Kelapa Sawit di Sarawak Malaysia untuk membayar utang keluarga dan memastikan pembiayaan kuliahnya. Salim bekerja dengan gigih dengan harapan bisa kembali melanjutkan sekolahnya sesegera mungkin.

Namun Salim menemukan masalah besar pada anak-anak TKI di sana, khususnya dibidang pendidikan. Anak-anak TKI yang sebagian besar lahir dan tumbuh di Sarawak tidak pernah merasakan pendidikan. Tidak adanya sekolah yang bisa menampung anak-anak TKI membuat Salim harus turun tangan. Salim berjuang untuk terciptanya sekolah-sekolah untuk anak-anak TKI di sana. Awalnya banyak sekali tantangan dan halangan yang dihadapinya untuk mendirikan sekolah-sekolah tersebut, seperti ketidakperdulian pihak perusahaan, ketakutan para TKI akan anak-anaknya yang tidak semua memiliki dokumen resmi, dan bahkan tidak adanya dukungan serius dari pihak pemerintah.

KJRI Kuching yang seharusnya bertanggungjawab akan pendidikan anak-anak TKI di Sarawak seakan tutup mata dan telinga akan masalah ini, bahkan Salim pun pernah ditentangnya. Cikgu Salim sapaan akrabnya kini telah bisa sedikit tersenyum manis melihat jerih payahnya. Sudah banyak yang mulai mendukungnya, seperi VTIC (Volunteerism Teaching Indonesian Children), Atase Pendidikan KBRI Kuala Lumpur, dan bahkan KJRI Kuching yang kini menjadi mitra aktifnya. Dibawah kegigihannya selama enam tahun ini, kini berdirilah setidaknya 19 sekolah non formal khusus untuk anak-anak TKI yang tersebar di beberapa perusahaan kelapa sawit di Sarawak Malaysia dan Salim masih terus berupaya untuk membuka sekolah-sekolah lainnya.

Cikgu Salim akan berupaya untuk menuntaskan janjinya ketika kecil dahulu, “Apabila saya bisa bersekolah, maka saya akan bersekolah bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk Indonesia.” Cikgu Salim kini telah berhenti menjadi buruh TKI, Salim sudah memfokuskan dirinya pada pendidikan anak-anak TKI di Sarawak, Malaysia dan menjadi Koordinator Guru Sekolah Non Formal Indonesia di Sarawak. Cikgu Salim adalah seorang pejuang dan pahlawan nyata untuk pendidikan anak-anak TKI di Sarawak. Terima Kasih Cikgu Salim, berkatmu anak-anak TKI di Sarawak bisa mengeyam manisnya pendidikan.

Leave a Reply

Close Menu